
Wewangian (aroma terapi) mempunyai efek positif dalam menjaga kesehatan, karena ia merupakan nutrisi (makanan) roh. Sementara roh adalah kendaraan bagi stamina. Dan stamina akan meningkat dengan wewangian (bau harum). Aroma terapi sangat bermanfaat bagi organ-organ bagian dalam, seperti otak dan jantung. Juga dapat membuat jiwa merasa senang. Dan merupakan sesuatu yang paling tepat dan paling pas dengan roh. Oleh sebab itu di dalam Shahih Muslim terdapat hadis dari Ibnu Umar yang menyatakan, bahwasanya Nabi saw suka berasap (melakukan aroma terapi) dengan kayu gaharu.[1] (Yakni sejenis kayu yang biasa dibakar bersama kafur (camphor) untuk dimanfaatkan asapnya yang harum baunya). Sementara Aisyah menyatakan, bahwasanya Nabi suka memakai minyak misik (kesturi) dan ambar.[2] Dan di dalam kitab Shahihain disebutkan, bahwasanya Aisyah mengoleskan minyak misik kepada beliau pada saat memulai ihram dan mengakhirinya (tahallul).[3]
Diriwayatkan dari Anas, ia berkata: Rasulullah saw bersabda:
“Kesenangan duniawi yang kusukai adalah wanita dan minyak wangi. Dan kesejukan mataku ada di dalam shalat.”[4]
Dari Abu Hurairah diriwayatkan, bahwasanya Nabi saw bersabda:
“Barangsiapa yang ditawari raihan (sejenis tumbuhan yang harum baunya), maka hendaklah ia tidak menolaknya. Karena raihan itu ringan dibawa dan harum baunya.”[5]
Dan dari Abu Hurairah juga diriwayatkan:
“Barangsiapa yang ditawari minyak wangi, janganlah ia menolaknya. Karena minyak wangi itu ringan dibawa dan harum baunya.”[6]
Sementara Anas meriwayatkan, bahwasanya Nabi saw tidak pernah menolak minyak wangi.[7]
Sedangkan Abu Sa’id menyatakan, bahwasanya Nabi saw bersabda:
“Mandi Jum’at adalah wajib bagi setiap orang dewasa, bersiwak, dan memakai minyak wangi menurut kemampuannya.”[8]
Para malaikat –‘alaihimus salam- menyukai bau harum dan merasa terganggu dengan bau busuk. Sebagaimana diterangkan dalam kisah tentang bawang merah, bawang putih, dan bawang bakung. Sedangkan syetan –la’anahumullah- berbanding terbalik dengan mereka. Sebagaimana dinyatakan di dalam hadis yang masyhur: “Sesungguhnya tempat-tempat buang hajat ini dihadiri oleh syetan.”[9]
Dan diriwayatkan, bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan mencintai kebaikan, Maha Bersih dan mencintai kebersihan, Maha Mulia dan mencintai kemuliaan, Maha Dermawan dan mencintai kedermawanan. Maka bersihkanlah beranda dan halaman rumah kamu. Jangan meniru orang-orang Yahudi yang suka menumpuk sampah di rumah mereka.”[10]
Dirangkum dari buku “Resep Obat Ala Nabi” penerbit Pustaka eLBA
[1] Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya pada kitab
Az-Ziinah, bab
At-Tabakhkhur Bil Ulwah, no.2213. Dan dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 3/31.
[2] Dikeluarkan oleh An-Nasa’I dalam kitab As-Sunan Ash-Shughraa pada kitab Az-Ziinah, 8/149 dan 150. Dan dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam kitab At-Tarikh Al-Kabir.
[3] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari pada kitab Al-Hajj, bab Ath-Thiib Indal Ihram, 3/315 dan 316. Juga pada kitab Al-Libas. Dikeluarkan oleh Muslim pada kitab Al-Hajj, no.37. Dikeluarkan oleh Abu Daud pada kitab Al-Manasik, At-Tirmidzi pada kitab Al-Hajj, An-Nasa’I pada kitab Al-Hajj, Ibnu Majah pada kitab Al-Manasik, dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 6/98 dan 130.
[4] Dikeluarkan oleh An-Nasa’I pada kitab Isyratun Nisaa, bab Hubbun Nisaa, 7/61. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 3/128 dan 199. Dikeluarkan oleh Al-Hakim dalam Mustadrak-nya. Ia menilainya shahih dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Hadis ini isnadnya hasan. Hadis ini dinilai hasan oleh Al-Iraqi dan Ibnu Hajar. Dan dikeluarkan oleh An-Nasa’I dari jalur lain dari Anas dengan sanad yang jayyid (bagus).
[5] Dikeluarkan oleh Muslim pada kitab Al-Alfadh, bab Isti’malul Miski, no.2253.
[6] Dikeluarkan oleh Abu Daud pada kitab At-Tarajjul, bab Raddut Thiib, no.4172. Dikeluarkan oleh An-Nasa’I pada kitab Az-Ziinah, bab Ath-Thiib, 8/189. Dan dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, no.1473. Hadis ini isnadnya shahih.
[7] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, pada kitab Al-Libas, bab Man Lam Yarudda Ath-Thiib, 10/312.
[8] Dikeluarkan oleh Muslim pada kitab Al-Alfadh, bab Isti’malul Miski Wa Annahu Athyabut Thiib, no.2252. Dikeluarkan oleh Abu Daud pada kitab Al-Janaiz, At-Tirmidzi pada kitab Al-Janaiz, An-Nasa’I pada kitab Al-Janaiz, dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 3/31 dan 36.
Dikeluarkan oleh Al-Bukhari pada kitab Al-Adzan, 2/302 dan kitab Al-Jum’ah. Dikeluarkan oleh Muslim pada kitab Al-Jum’ah, no.4 dan 7. Dikeluarkan oleh Abu Daud pada kitab Ath-Thaharah, Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 3/6 dan 30, dan Imam Malik dalam Muwaththo’-nya, no.2 dan 4.
[9] Dikeluarkan oleh Abu Daud pada kitab Ath-Thaharah, Ibnu Majah pada kitab Ath-Thaharah, dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 4/369 dan 373. Lihat: Al-Misykat, no.357, dan As-Silsilah Ash-Shahihah, no.1070.
[10] Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, no.2800. Namun di dalam sanadnya terdapat Khalid bin Ilyas yang ditinggalkan hadisnya. Dan dikeluarkan oleh Ath-Thabrani, 2/11 dengan sanad yang bisa dinilai hasan (baik). Lihat: Al-Misykat, no.4487, dan As-Silsilah Ash-Shahihah, 1/3/75.